Dari Kesadaran Sepenuh Pikiran menuju Kesadaran Sepenuh Hati : Perjalanan Kembali ke Hati saya

Saya tidak selalu memiliki hubungan baik dengan pikiran saya. Ada saatnya saya tidak bisa mengontrol banyaknya pikiran saya. Sepertinya mustahil bagi saya untuk jeda dan menghentikan pikiran saya. Pikiran saya selalu dalam kondisi aktif. Semakin sunyi lingkungan saya, semakin keras pikiran saya, semakin saya terganggu oleh pikiran-pikiran saya itu.

Sejujurnya, saya telah berusaha untuk menenangkan pikiran saya melalui latihan meditasi harian selama 1 jam penuh mulai ketika saya berusia 22 tahun dengan komitmen penuh. Saya lebih suka menyebutnya Thinkitation. Saat itu adalah saat yang baik untuk melamun, berencana dan kadang-kadang khawatir. Saat itu saya merasa sadar penuh dengan pikiran-pikiran saya. Melihat mereka datang dan pergi, dan berusaha menjaga jarak dari emosi- emosi yang muncul.

Apakah saya merasa lebih tenang setelah 1 jam duduk? Tentu saja. Apakah latihan itu membantu saya? Iya. Saya dapat memisahkan diri saya dari dorongan untuk mengikuti pola berpikir yang kadang cenderung merusak diri dan tidak produktif. Hal ini membantu self esteem (harga diri) saya. Dengan komitmen, saya bisa mengontrol pikiran saya. Akan tetapi, setelah 30 tahun rajin berlatih, saya menginginkan hal yang lebih.

Selayaknya ingatan dari lubuk hati terdalam, ada sebuah perasaan untuk ingin mencari Rumah yang saya rindukan

Sebuah tempat penuh Kasih Sayang Tuhan, penuh penyambutan, penuh kebenaran. Saya selalu berharap pikiran yang tenang akan membawa saya ke sana, bahwa kesadaran sepenuh pikiran akan memenangkan gelombang kesadaran saya dan membawa saya ke dalam lautan kebahagiaan berkelimpahan.

Saya selalu tahu bahwa Kasih Sayang Tuhan bermukim di Hati saya, bukan di otak saya

Setelah mengikuti Meditasi Membuka Hati, saya sadar bahwa saya di sini untuk Kasih Sayang Tuhan. Hanya itu yang masuk akal dalam dunia saya yang penuh perlawanan. Dulu seringnya saya tidak bahagia – lebih bahagia dari sebelum saya meditasi, saya tetap emosional. Saya menderita Anorexia, Bulimia, dalam hubungan yang naik-turun, dan selalu bergelut dengan emosi. Saya belajar untuk melewatinya, menjalani hari demi hari seperti mengayuh sampan di tengah badai samudera.

Dengan Meditasi Membuka Hati, saya benar-benar menyadari sebuah prinsip sederhana. Bahwa Pikiran kita tidak akan penah menjadi sumber Kasih Sayang atau Kebahagiaan. Pikiran mungkin akan menjadi tenang suatu waktu, tapi kemudian ada sesuatu yang bisa memancingnya untuk menjadi liar kembali layaknya kuda liar yang melampiaskan hasratnya.

Terkadang saya merasa konyol, menyadari bahwa selama ini apa yang saya cari dan inginkan ada dibawah hidung saya – sebenar-benarnya! Hati Spiritual saya, sabar, menyimpan harta paling berharga, menunggu saya untuk datang dan mengambilnya.

Tidaklah sulit untuk terhubung dengan Hati kita

Memang sengaja dibuat tidak sulit maka hanya pencari yang tulus yang akan menemukannya. Hubungan ke Hati kita dirancang sedemikian jelasnya bagi kita. Hati kita adalah dimana kita meletakkan tangan kita saat kita merasakan perasaan indah, sesuatu yang menyentuh kita sangat dalamnya. Hati kita adalah dimana kita merasa hangat dan bahagia saat kita memiliki hubungan yang dalam dengan seseorang. Hati kita seolah-olah tertuju kepada orang tersebut. Tetapi, karena kita adalah makhluk dengan kesadaran pikiran dan menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, seringnya kita piker bahwa jawaban dari semua pertanyaan kita terletak di kepala atau pikiran kita, dan bahwa semua filsuf, dan ahli pikir dapat membantu kita menemukan kebahagiaan sejati.

Saya pernah menghadiri sebuah konferensi Filosofi Keindahan, sebuah syarat bagi program doktorat yang saya jalani. Berlangsung di sebuah resort di Yucatan, 2 jam di tengah hutan. Kami duduk di kamar hotel, menonton presentasi saat mendiskusikan tentang apa itu keindahan, ketika pada saat yang sama di sekeliling kami adalah hutan belantara, penuh dengan kehidupan yang indah yang pernah saya saksikan. Saya mulai melihat keluar melalui jendela, merasa bahwa ada yang salah dengan apa yang kami lakukan. Saya merasa semakin tidak nyaman berada di ruangan itu, terpisah dari segala keindahan di sekeliling saya. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar, bebas. Berjalan ke jalan terdekat, saya berpapasan dengan sekelompok anak-anak yang menuju ke sekolah. Mereka berjalan sambil bernyanyi dengan penuh rasa bahagia dan sukacita, dan saya terlihat seperti orang aneh yang berjalan bersama mereka. Keindahan ada pada pondok-pondok, udara, dan senyuman di wajah anak-anak itu. Keindahan ada pada kupu-kupu yang memenuhi udara hutan. Saya berjalan di tengahnya, meresapinya, bernafas dengannya. Itu adalah kehidupan. Hidup dipenuhi dengan keindahan. Dan diantara itu semua, layaknya benang emas, ada Kasih Sayang Tuhan.

Saat itulah salah satu saat saya tersadar. Saya yakin anda juga pernah mengalaminya: Saat kelahiran anak, awal musim semi, bahkan saat-saat dimana orang tersayang akan meninggal. Momen-momen seperti ini sangat hidup, dipenuhi dengan hidup. Dalam momen-momen ini, hati kita “hidup”. Namun kita tidak perlu menunggu momen-momen ini. Dengan menyentuh hati dan tersenyum, kita bisa merasakan Kasih Sayang Tuhan. Caranya sangat alami dan mudah, penuh dengan berkat.

Hati kita alaminya tenang dan damai. Melalui Hati, kita dapat merasakan hubungan sangat dalam dengan sesama, dimana pikiran kita tidak akan pernah memahaminya. Rasa syukur hidup dalam Hati kita, dan juga hubungan yang sangat personal dan dalam dengan Sang Pencipta. Sumber Segalanya. 

Kebijaksanaan, rasa sayang, pemahaman, dan segala sifat “kemanusiaan” ada dalam Kesadaran Sepenuh Hati.

Kita hanya perlu memilih menggunakan Hati kita, selebihnya diberikan secara alami oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ditulis oleh:

Diana Stone, PhD

Psikolog Terdaftar

Asheville, NC, Amerika

[email protected]